Korupsi, Apa Sih?

Korupsi adalah persoalan klasik yang telah lama ada. Sejarawan Onghokham menyebutkan bahwa korupsi ada ketika orang mulai melakukan pemisahan antara keuangan pribadi dan keuangan umum. Menurut Onghokham pemisahan keuangan tersebut tidak ada dalam konsep kekuasaan tradisional. Dengan kata lain kata “korupsi” mulai dikenal saat sistem politik modern dikenal.

Dalam sejarah Islam sering dikutip kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, salah seorang Khalifah Bani Umayyah. Beliau adalah figur unik di tengah-tengah para pemimpin yang korup dalam komunitas istana. Ia sangat ketat mempertimbangkan dan memilah-milah antara fasilitas negara dengan fasilitas pribadi dan keluarga. Keduanya tidak pernah dan tidak boleh dipertukarkan.

Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berada di kamar istana melakukan sesuatu berkaitan dengan urusan negara.

Tiba-tiba salah seorang anaknya mengetuk pintu ingin menemui bapaknya. Sebelum masuk, ditanya oleh Khalifah, “Ada apa malam-malam ke sini?” “Ada yang ingin dibicarakan dengan bapak”, jawab anaknya. “Urusan keluarga atau urusan negara?” tanya balik Khalifah. “Urusan keluarga,” tegas anaknya. Seketika itu, Khalifah mematikan lampu kamarnya dan mempersilakan anaknya masuk. “Lho, kok lampunya dimatikan,” tanya anaknya sambil keheranan. “Ini lampu negara, sementara kita mau membicarakan urusan keluarga, karena itu tidak boleh menggunakan fasilitas negara,” demikian jawab Khalifah. Sang anak pun mengiyakannya.

Itulah sekelumit cerita tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam upayanya untuk menegakkan pemerintahan yang bersih bebas orupsi melalui sikap-sikap yang bertanggungjawab dengan menghindari pemanfaatan fasilitas negara untuk kepentingan diri, kelompok, dan keluarganya. Adakah pemimpin sekarang seperti Umar bin Abdul Aziz?

Praktek korupsi saat ini.
Menurut Onghokham ada dua dimensi dimana korupsi bekerja. Dimensi yang pertama terjadi di tingkat atas, dimana melibatkan penguasa atau pejabat tinggi pemerintahan dan mencakup nilai uang yang cukup besar. Para diktator di Amerika Latin dan Asia Tenggara misalnya berhasil mengumpulkan uang jutaan dollar dari sumber alam dan bantuan luar negeri.

Sementara itu dalam dimensi yang lain, yang umumnya terjadi di kalangan menengah dan bawah, biasanya bersentuhan langsung dengan kepentingan rakyat atau orang banyak. Korupsi yang terjadi di kalangan menengah dan bawah acap menghambat kepentingan kalangan menengah dan bawah itu sendiri, sebagai contoh adalah berbelitnya proses perizinan, pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), proses perizinan di imigrasi, atau bahkan pungutan liar yang dilakukan oleh para polisi di jalan-jalan yang dilalui oleh kendaraan bisnis, dan lain sebagainya. Sejarah sendiri mencatat bahwa Perang Diponegoro, yang terjadi pada tahun 1825-1830, muncul akibat protes rakyat terhadap perbuatan pejabat-pejabat menengah, seperti Demang atau Bekel, dalam soal pungutan pajak, pematokan tanah untuk jalan tol, dan khususnya pungutan-pungutan yang dilakukan oleh para pejabat yang bertanggungjawab terhadap pintu gerbang tol.

Koruptor itu Lebih dari Sekedar Maling

Masyarakat dan siapapun tentu tahu apa yang dimaksudkan ‘Mencuri’, yaitu mengambil sesuatu yang bukan miliknya tanpa sepengetahuan pemiliknya. Perbuatan ini sudah jelas didefinisikan sebagai tindak kriminal atau tindak kejahatan oleh regulasi yang berlaku. Masyarakat akan menyebutnya sebagai perbuatan jelek, tidak baik, dan jahat. Tua ataupun mudah, bahkan mereka yang masih belia pun tahu seperti apa buruknya perbuatan ‘Mencuri’. Unsur moral dan norma dimainkan untuk menekan perbuatan ‘Mencuri/pencurian’.

Justru korupsi lebih dari sekedar maling. Seorang maling ayam, yang terpaksa mencuri karena kelaparan tentu tidak seburuk seorang koruptor yang duduk dalam kursi empuk dengan segala fasilitas dan gaji yang cukup. Meski keduanya adalah perbuatan yang buruk, namun sang koruptor bertambah sifatnya menjadi orang serakah, pengkhianat dan penipu rakyat.

Menurut Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Bab II, Pasal 2, Ayat 1, perbuatan korup diartikan sebagai tindakan melawan hukum dengan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Perbuatan korup dilakukan tanpa sepengetahuan negara atau peraturan yang berlaku, karena itu dikatakan perbuatan yang melawan hukum. Apa bedanya dengan perbuatan ‘Mencuri’? Bedanya terletak pada dampak kerugian. Apabila perbuatan ‘Mencuri’ merugikan pemiliknya secara individu, maka perbuatan ‘Korup’ merugikan negara. Tidak hanya negara yang dirugikan tapi juga tatanan berbangsa dan bernegara. Bedanya lagi, sebutan perbuatan ‘Korup’ supaya terlihat lebih terhormat karena pelakunya umumnya adalah orang-orang yang terhormat yang umumnya menjabat di pemerintahan.

Dalam UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Bab II, Pasal 3 disebutkan bahwa perbuatan ‘Korup’ dilakukan oleh setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi, menyalahgunakan wewenang, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan dan kedudukan yang dapat merugikan negara atau perekonomian negara. Jadi mereka yang punya kesempatan karena jabatan, itulah yang punya potensi atau peluang melakukan perbuatan ‘Korup’.

Kata kuncinya ‘Ada Kesempatan’. Lalu, apa bedanya dengan perbuatan ‘Mencuri’? Baik perbuatan ‘Mencuri’ ataupun ‘Korup’, keduanya adalah PENCURI atau MALING. Jika di Indonesia, para maling diperlakukan tidak hormat, tapi para koruptor sering diperlakukan istimewa.

Dalam UU No 31 Tahun 1999 jo. UU No 20 Tahun 2001, bentuk perbuatan ‘Korup’ atau korupsi dikelompokkan menjadi 7 bagian, yaitu:
1. Kerugian Keuangan Negara
2. Suap-menyuap
3. Penggelapan dalam jabatan
4. Pemerasan
5. Perbuatan curang
6. Benturan kepentingan dalam pengadaan
7. Gratifikasi.
(Buku Saku Korupsi, KPK, 2006: 16-17)

Advertisements
By grey deka roesstyadi Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s